Kamis, 05 Juli 2012

Was Born First

Yang aku tau anak pertama itu hadir ketika sperma bertemu dengan sel telur, selama sembilan bulan ibu mengandung terlihat kemesraan yang luar biasa antara ayah dan ibu dalam penantian kelahiran anak pertama.Dan sebagai anak pertama aku mau sedikit mengeluarkan pendapat aku tentang anggapan orang bahwa anak pertama itu akan sedikit berbeda.
Ada beberapa pandangan yang muncul ketika anak pertama berlaku sedikit aneh atau emang sebenarnya konyol. “kamu pasti anak pertama” hampir setiap orang berpendapat seperti itu. Nah,,,mengapa hal ini bisa terjadi di sekitar kita? Toh anak pertama dengan anak kedua sama. Sama-sama lahir dari ibu yang sama, hanya saja waktunya yang berbeda. Ada beberapa alasan yang bisa menjelaskan mengapa semua ini bisa terjadi. Diantaranya, anak pertama tidak memiliki sosok abang/kakak di dalam keluarga. Anak pertama dituntut harus menjadi ikon keluarga untuk menjadi contoh bagi anak-anak berikutnya.

Seseorang bingung ketika bel tanda pulang sekolah berbunyi dan tidak ada satupun siswa yang beranjak keluar kelas. Siswa yang berkeinginan keluar lebih cepat jadi bertanya-tanya ketika berada dalam keadaan ini. “apa aku salah dengar bel?” apa aku salah kalo keluar sekarang?” atau memang belum boleh keluar kelas, karena menunggu sesuatu?”. Sama halnya pada anak pertama, pertanyaan yang sama muncul seketika itu dan membuat anak pertama harus mikir beberapa kali sebelum melakukan sesuatu. Terkadang apa yang seharusnya dilakukan harus ditunda karena masih ragu akan kebenaran langkah yang akan diambil. Hal tersebut akan menyebabkan anak pertama tampak bingung dan terlihat suka melamun. Hal yang berbeda terjadi pada anak kedua, anak pada posisi ini dengan mudah menyalahkan anak pertama ketika dia baru saja menjatuhkan vas bunga dari atas meja ruang tamu. “tadi kakak menjatuhkan vas yang ada di ruang tengah, sekarang adek jatuhin vas yang ada di ruang tamu dong”. Pengakuan seperti ini sering terjadi dan berakibat fatal bagi mereka yang dipanggil “kakak”. Karena kedua orang tua akan menyoroti si pemberi contoh yang tidak baik.

Hidup di bawah tekanan itu tidak mudah dan tidak enak. Percaya atau tidak, coba saja ketika kamu menjadi seorang juara lomba mengaji tingkat kecamatan. Ketika mengikuti lomba tingkat kabupaten, pasti semua orang menuntut kamu untuk jadi pemenangnya. Apalagi kalo juara dari kecamatan lain gak ikutan. Orang-orang akan banyak menaruh harapan yang akan membuat bahumu terasa semakin berat menjalani perlombaan tersebut. Ketika menang, semua akan bangga, namun ketika kamu berada dalam keterpurukan. Tidak semua akan membangunkan kamu. Itu kenyataannya. Anak pertama slalu dijadikan contoh, bahasa lebih tepatnya dipaksa untuk jadi contoh bagi anak-anak berikutnya. Hal yang tidak adil terjadi dalam percontohan di dalam keluarga. Bila anak pertama gagal, maka orang tua akan membandingkan hasil yang diraih dengan hasil gemilang yang pernah diraih oleh kedua orang tua tersebut. Atau membandingkannya dengan hasil yang diraih oleh anak-anak berbakat lainnya.

 In the other side hal bertolak belakang terjadi pada anak kedua, dia jarang sekali dibandingkan dengan mereka (orang tua), malah dibandingkan dengan anak pertama yang notabene-nya sama-sama anak. Hal tersebut akan mengurangi beratnya kepala anak kedua untuk memikirkan tentang persaingan. Dalam hal ini anak pertama cenderung lebih stress dan dituntut untuk berbuat lebih baik dalam sebuah keluarga.
Dari sekian banyak beban derita yang harus dipikul oleh anak pertama, ada juga banyak hal indah yang tidak bisa dirasakan oleh anak kedua. Nah ini dia yang dibilang “mumpung gue lahir lebih duluan”. Tentunya anak pertama sangat dirindukan kehadirannya pada setiap pasangan pengantin baru, segala sesuatu dipersiapkan semaksimal mungkin, karena dia anak pertama. Hal ini sama seperti ketika seorang mahasiswa diterima di kampus, ada begitu banyak hal yang harus dipersiapkan, mulai dari baju, buku, sepatu, laptop, dan lain sebagainya. Namun ketika memasuki semester kedua, sepatu lama masih bangus, ngapain beli yang baru. Orang tua yang menanti anak pertama sangat berhati-hati, karena memang belum ada pengalaman tentang ini. Kalau si anak menangis, bagaimana cara mengatasinya? Bagaimana juga ketika ini dan ketika itu blab bla bla…
Persiapan menanti anak pertama yang biasa dilakukan mulai dari mempersiapkan pakaian, mainan dan lain sebagainya. Anak pertama mendapat porsi yang special. Ketika anak kedua lahir, dia masih bisa peke mainan kakaknya dan baju kakaknya juga masih bagus, kenapa harus beli baju baru. Karena pertumbuhan bayi itu sangatlah cepat yang membuat anak pertama banyak menikmati hal-hal baru dalam hidupnya.
At least, berbanggalah menjadi anak pertama, karena anak pertama sangat diharapkan untuk bisa berdiri di depan, menjadi orang yang diikuti lebih baik daripada mejadi pengikut. Dan membuat orang lain mengikuti kita tidaklah mudah. System sudah mengatur semuanya sehingga hal ini otomatis terjadi dalam kehidupan kita. Ketika dijadikan harapan untuk keluarga, maka tugas kita, buktikan kalau kita mampu, buktikan bahwasanya kita bisa. Tantangan hadir untuk dilumpuhkan, bukan untuk ditakuti atau untuk lari. Jadilah pemenang, bukan pecundang. Ketika orang-orang mengatakan anak pertama itu bego’, abaikan saja, semua itu terjadi karena keadaan, bukan bawaan.
Selesai.. 

10 komentar:

  1. tapi mslh nya gw bukan anak pertama , bukan juga anak kedua,,, huahhh :(

    salam kenal kk :D

    BalasHapus
  2. iya, gue anak pertama dan emang bener sih gue selalu dibanding-bandingkan sama orang tua gue atau sama anak lain dan itu sangat membebani gue. bayangkan, dari kecil gue udah diarahkan (tapi agak memaksa) untuk jadi dokter, padahal otak kanan gue lebih mendominasi. ketika gue memilih untuk masuk IPS, papa gue sangat kecewa. mungkin karena takut adik-adik gue akan mencontoh gue.

    dan emang bener, jadi anak pertama itu enak. gue punya lebih banyak foto di album dibandingkan dengan adik-adik gue soalnya mama dulu masih rajin fotoin gue karena gue anak pertama dan mungkin kasih sayang ortu ke gue belum terbagi-bagi ke yang lain jadi gue dapet banyak perhatian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ternyata rata2 yang dialamin anak pertama itu hampir sama ya, tapi gimana pun kita tetap anaknya kok :)

      Hapus
  3. ho ho,,,I was born the last...and felling so wrong with my childish...

    BalasHapus
    Balasan
    1. doesn't matter matter about that, cuma belum dewasa aja kalii ..

      Hapus
  4. masalahnya ane anak unggal,bkal nanggung beban lbih berat drpda sulung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. paling gak perlu jadi perbandingan dengan adik sendiri lah..

      Hapus
  5. salam kenal ya gan,
    follow blog saya ya :D
    thanks loh!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus

" Gunakanlah selalu kata yang bijak.. "
(Use "Anonymous" if haven't any account)